Kubangan Lumpur, Potret Jalan Rusak Muara Ancalong

Potret salah satu jalan di Muara Ancalong.

KUTIM – Hujan yang turun di Muara Ancalong bukan hanya membawa air, tetapi juga kecemasan. Bagi warga di kecamatan tertua di Kutai Timur ini, hujan berarti jalan berubah menjadi lumpur, roda kendaraan terjebak, dan perjalanan bisa berjam-jam lebih lama dari biasanya.

Di tengah gencarnya pembangunan daerah, wilayah pedalaman ini masih bergulat dengan persoalan paling dasar: akses jalan.

Ruas jalan yang menghubungkan Desa Kelinjau Ulu, Kelinjau Ilir, hingga Desa Senyiur menjadi saksi betapa infrastruktur belum sepenuhnya menyentuh seluruh pelosok Kutai Timur.

Jalan tanah merah itu adalah nadi kehidupan masyarakat, tempat anak berangkat sekolah, pekerja menuju kebun sawit, dan warga menggantungkan mobilitas hariannya.

Pemuda Muara Ancalong, Angga Gilang Permadi, menyebut kondisi jalan tersebut tak pernah benar-benar pulih. Kerusakan selalu berulang, terutama ketika musim hujan datang.

“Itu jalan utama, akses satu-satunya masyarakat. Untuk jaraknya itu dari desa Kelinjau Ulu menuju Senyiur itu jaraknya 34 kilometer. Cuman yang rusak itu ada beberapa titik,” kata Angga, Rabu (7/1/2025).

Namun beberapa titik itu cukup untuk melumpuhkan pergerakan warga. Di kilometer 1 hingga 3 dan kilometer 7, jalan kerap berubah menjadi kubangan.

Kendaraan roda dua terperosok, mobil kerap harus ditarik, dan sebagian warga memilih menunggu hujan reda sebelum berani melintas.

“Setiap musim hujan pasti rusak. Selama ini tidak ada penanganan serius, baik dari pemerintah daerah maupun koordinasi antara kecamatan, desa, dan perusahaan,” ujarnya.

Upaya perbaikan pernah dilakukan. Alat berat diturunkan, tanah dikeruk, permukaan diratakan. Namun tanpa pengerasan, hujan berikutnya menghapus semua pekerjaan itu. Jalan kembali hancur, seolah tak pernah disentuh perbaikan.

“Mayoritas warga itu karyawan perusahaan sawit. Jalan itu satu-satunya akses untuk berangkat kerja,” jelasnya.

Ironisnya, jalan yang rusak itu juga dilalui kendaraan perusahaan. Truk-truk besar keluar masuk, sementara warga harus berjibaku dengan lumpur demi mempertahankan aktivitas ekonomi mereka.

Ketika kondisi semakin parah, sebagian warga memilih jalur alternatif, ketinting menyusuri parit-parit besar di sisi jalan. Cara yang berisiko, namun kerap dianggap lebih pasti dibanding memaksa kendaraan melewati kubangan.

Di tengah keluhan itu, muncul secercah harap. Angga menyebut pemerintah daerah dikabarkan telah menganggarkan perbaikan jalan Muara Ancalong pada 2026 melalui skema multiyears. Namun bagi warga, kabar itu masih sebatas janji yang belum bisa dirasakan.

“Informasinya sudah dianggarkan tahun 2026, tapi pastinya kami belum tahu detailnya,” ucapnya.

Perasaan tertinggal pun sulit dibendung. Warga membandingkan kondisi mereka dengan wilayah perkotaan di Kutai Timur, khususnya Sangatta, yang dinilai jauh lebih maju.

“Kalau dibandingkan dengan Sangatta, jauh sekali. Hampir semua aspek tertinggal, bukan cuma jalan, tapi juga kesehatan dan fasilitas lainnya,” katanya.

Bagi Angga dan warga Muara Ancalong, jalan bukan sekadar infrastruktur. Dia adalah simbol kehadiran negara, ukuran apakah pembangunan benar-benar menjangkau seluruh wilayah, atau hanya berputar di pusat kota.

“Kami berharap keluhan masyarakat benar-benar didengar. Jangan sampai kecamatan tertua justru terus tertinggal,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini